Pengalaman Selama Merantau di Lampung

Merantau di Lampung
Menara Siger
Waktu itu bulan agustus tahun 2014 gue berangkat merantau untuk kuliah di Lampung, sebuah provinsi yang waktu itu belum banyak gue tahu gimana daerahnya, gimana orang-orangnya, gimana suasananya dan banyak hal lain.

Gue tahu lokasinya hanya berdasarkan peta bahwa Lampung terletak di ujung pulau Sumatera yang artinya dekat dengan pulau Jawa dipisahkan oleh selat sunda, semenjak beberapa bulan di Lampung yang gue denger bahwa Lampung itu daerah yang rawan dan banyak pelaku kriminal dari sini, oh I see.

Katanya sih emang rawan, tapi selama disini gue aman-aman aja gak pernah ngalamin yang namanya kehilangan barang atau apapun itu kalo mendengar ada temen yang pernah kehilangan sih sering malahan. Selama kuliah gue pernah yang namanya musuhan sama temen sekelas ya namanya juga beda karakter dan suku itu mungkin hal yang wajar sih, soalnya yang masih sama logatnya pas masih di kampung juga pernah musuhan apalagi ini beda suku dan ego. Tapi disini ceweknya cakep-cakep loh dan cowoknya juga.

Selama di Lampung gue kira logat ngomong gue bakal berubah dari yang medok ke logat sumatera gitu tapi disini ehh malah ketemu orang Jawa lagi yang ketika ngobrol pastinya pake bahasa Jawa tentunya logat gue gak bakal ilang nih.

Di Lampung selain ada suku asli lampung ternyata banyak juga orang Jawa dan cukup mendominasi diseluruh daerah kabupaten, bahkan ada kabupaten dan kota yang mayoritasnya orang Jawa bisa dibilang miniatur Jawa di Sumatera. Kebanyakan dari mereka merupakan masyarakat transmigran dari jaman kolonial Belanda, yang didatangkan dari Jawa Tengah. Nah karena gua berasal dari Jawa Timur makanya gua harus beradaptasi lagi menyesuaikan karena perbedaan kosakata yang lumayan banyak.

Suatu ketika gua pergi ke pasar yang isinya kebanyakan orang Jawa, saat gua coba ngobrol ke penjual menggunakan bahasa Jawa halus kebanyakan mereka pada heran, mungkin karena disini sangat jarang anak mudanya yang keturunan bisa menggunakan bahasa Jawa halus.

Kembali lagi ngobrolin soal sebutan Lampung yang rawan, kalo itusih menurut gua hanya di beberapa daerah saja dan tidak semua orang lampung "Jahat", gua punya temen orang lampung asli dia orangnya malah baik banget walau karakternya agak keras masih bisa gua maklumin dan mereka kebanyakan solid kalo soal pertemanan. Ibarat kata kalo gak kenal maka gak sayang.

Sebagai perantau gua disini melihat lagi apa tujuan gue dateng jauh-jauh ke tanah lampung yaitu belajar dan meraih gelar, jadi selama disini tentu wajar sebagai pendatang menerapkan "dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung" oleh karena itu gue gak bisa maksain karakter sebagai orang Jawa Timur yang terkenal keras dan modal nekat.

Soal biaya hidup disini lumayan mahal, padahal gue tinggalnya di kota Bandar Lampungnya yang menjadi pusat provinsi lampung tapi disini hampir sama kayak didaerah terpencil kalo soal harganya. Perbandingannya bisa sampe 2x lipat, misal harga nasi bungkus dengan lauk telur dadar di Lampung harganya Rp.9000 sedangkan kalo di daerah gua harganya hanya Rp.4000-5000 saja.

Lampung juga terkenal soal wisatanya yang indah dan eksotis, bahkan level dunia. Banyak orang yang jauh datang dari luar pulau hanya untuk menikmati pesona alamnya yang indah, di pantai ada, di hutan ada, gunung juga ada pokoknya banyak deh gak bisa disebutin semuanya.

Oke mungkin segitu dulu aja deh cerita pengalaman gue selama merantau di Lampung, masih banyak kisah dan cerita yang mau gua sampein tapi kita lanjut di tulisan berikutnya aja. See U

0 Response to "Pengalaman Selama Merantau di Lampung"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel